Senin, 21 Oktober 2013

Kumpulan Kata Diksi

Di usiaku ini, twenty nine my age, aku masih merindukan apresiasi, karena basically aku senang musik, walaupun kontroversi hati aku lebih menyudutkan kepada konspirasi kemakmuran yang kita pilih ya.”

“Kita belajar, apa ya, harmonisisasi dari hal terkecil sampai terbesar. Aku pikir kita enggak boleh ego terhadap satu kepentingan dan kudeta apa yang kita menjadi keinginan.”

“Dengan adanya hubungan ini, bukan mempertakut, bukan mempersuram statusisasi kemakmuran keluarga dia, tapi menjadi confident. Tapi, kita harus bisa mensiasati kecerdasan itu untuk labil ekonomi kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga…”

Seharusnya :

Di usiaku ini, my age twenty nine, aku masih merindukan apresiasi, karena pada dasarnya aku senang musik walaupun isi hati aku lebih menunjukan kepada sebuah konflik yang akan kita pilih.
Kita belajar , apa ya, menyatukan dari hal terkecil hingga hal terbesar. Aku berpikir kita tidak boleh egois terhadap satu kepentingan dan menguasai apa yang kita inginkan.

Dengan adanya hubungan ini, bukan membuat takut, bukan memperburuk status sosial dari keluarga dia, tetapi menjadi confident. Tetapi, kita harus bisa mengukur kecerdasan itu untuk ekonomi labil supaya kita tetap lebih baik dan aku sangat bangga. 

Sabtu, 12 Oktober 2013

EYD DAN TANDA BACA

Sekarang gw (saya) udah(sudah)  semester 6, gak (tidak) berasa (terasa) juga sih padahal kayak (seperti) baru kemarin masuk dunia perkuliahan. Ketika semester 6 mulai pikiran udah (sudah) mulai bekerja kira-kira Penulisan Ilmiah (PI)  apa yah (saja) yang nanti mau gw (saya) tulis. Mungkin itu menjadi isi pikiran dari semua mahasiswa Gunadarma yang seangkatan (diangkatan) sama gw(saya) akhirnya ruang PI di perpustakaan J1 Kalimalang menjadi petunjuk bagus soalnya hampir semua PI(Penulisan Ilmiah) mahasiswa Kalimalang ada di sana. Buat masuk ruang PI ada jamnya ternyata, tiap(setiap) mahasiswa mesti(wajib) membawa KTM dan hanya dijatahin 1 jam aja(saja) setiap hari. Sebenarnya sih kurang banget waktu 1 jam(waktu yang diberikan hanya 1 jam saja), tapi mesti(harus) gw(saya) manfaatin(manfaatkan) sebaik mungkin. Untuk jamnya biasanya sih gw(saya) masuk sesi 1 yang jam 09.30 – 10.30 soalnya ruang PI belum terlalu ramai, jadi bisa konsen(berpikir) buat(untuk) baca-baca(membaca) PI kakak kelas.

2 Minggu setelah masuk kuliah semester 6 baru deh pembagian Dosen Pembimbing (DP) untuk tiap(setiap) kelasnya, kalau kelas gw(saya) kebetulan Cuma(hanya) kebagian 2 DP aja(saja) yaitu Bu(Ibu) Early dan Bu(Ibu)Eva. Jadi kira-kira 1 DP menangani 20 mahasiswa, kebetulan kelas gw(saya) jumlahnya semua ada 40 mahasiswa. Waktu pertemuan bimbingan atau konsul Cuma(hanya) dijatahin(diberikan waktu) 2 jam mata kuliah setiap minggunya. Setelah pembagian DP ternyata gw(saya) dapet(dapat) DP Bu(Ibu) Early yang kebetulan pernah mengajar kelas gw (saya) semester 5 kemarin, jadi udah(sudah) kenal.

Seminggu sebelum jadwal konsul dimulai gw(saya) udah(sudah) mempertimbangkan beberapa judul yang kira-kira gw(saya) minat dan menarik buat (untuk) ditulis. Berdasarkan nasehat dari Bu(Ibu) Erny yaitu dosen Riset Akuntansi, PI yang kita tulis harus yang benar-benar kita sukai dan minat buat (untuk) ditulis karena akan mudah bagi kita untuk memulainya. Benar-benar nasehat yang membangun. makasih ya Bu!!(Terima kasih Ibu)

Akhirnya gw(saya) memutuskan untuk menulis “Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja”, karena selain pernah dapet(dapat) materi ini waktu semester-semester kemarin juga dapet(dapat) materi ini waktu praktikum. Jadi udah(sudah) lumayan(sedikit) paham tentang materi ini. Awalnya gw(saya) pengen(ingin) objek penelitiannya pada koperasi, karena gw(saya) udah(sudah) nemuin(menemukan) banyak buku mengenai koperasi, tapi karena data koperasi gak(tidak) bisa kita dapetin lewat internet tapi(tetapi) harus minta dan survey ke koperasi akhirnya gw(saya) mutusin(memutuskan) buat(untuk) ambil(membuat) objek penelitian pada perusahaan yang go public aja(saja). Selain bisa dapet(dapat) Laporan Keuangan lewat(melalui) internet juga bisa menghemat waktu, uang dan tenaga juga.
Minggu pertama konsul Bu Early memberikan arahan mengenai awal penulisan ilmiah dari cara penulisan juga hal-hal lainnya seperti bagaimana cara membuat rumusan masalah, objek penelitian itu seperti apa baiknya. Pokoknya banyak informasi yang bakal kita dapet dari DP saat awal pertemuan.
Minggu ke-2 konsul syukurlah bab 1 yang berisi Rumusan Masalah, Latar Belakang, Data atau Variabel dll di ACC sama DP, gw(saya) jadi semakin semangat buat(untuk) nyelesain(menyelesaikan) PI walapun banyak tugas kuliah dan praktikum juga. Tapi(tetapi) gw(saya) punya target bahwa PI harus selesai semester ini, akan membuang waktu, tenaga dan uang juga kalau PI ditunda dan harus disambung semester depan.

Lanjut ke bab 2 yang berisi tinjauan pustaka dari buku-buku referensi yang gw(saya) dapet(dapat), inget banget deh(ingat sekali) waktu mulai ngetik bab 2 itu pas(waktu) libur gw(saya) bisa ngetik(mampu mengetik) seharian penuh dari pagi jam 8 sampai magrib jam 6. Terus lanjut lagi jam 8 malem sampai jam 11 malem. Badan selain pegel-pegel, kepala juga pusink(pusing) karena terlalu lama di depan komputer, tapi(tetapi) harus tetap semangat ngerjain(mengerjakan) PI!!!(Penulisan Ilmiah.)

Setelah bab 2 rampung (setelah Bab 2 selesai) dan udah(sudah) dicek(diperikasa) dan direvisi lagi karena terdapat beberapa penulisan yang kurang tepat seperti penulisan definisi di mana harus memakai pengarang buku yang kita ambil kemudian tahun dan halaman buku seperti “Munawir (2010;25)” bab 2 akhirnya selesai juga dan bisa lanjut lagi ke bab 3. Fighting…Fighting!!!

Bab 3 mengenai metodologi penelitian di mana gw(saya) menceritakan tentang profile perusahaan, dari sejarah berdirinya, struktur organisasi, nilai budaya perusahaan, pokoknya banyak yang bisa kita tulis berdasarkan informasi yang kita dapet dari web perusahaan yang menjadi objek penelitian kita. Buat bab 3 setelah di cek(periksa) sama DP ternyata gak ada(tidak ada) kesalahan sama sekali, syukurlah jadi bisa lanjut ke bab 4.

Nah inilah(Disini puncaknya dari gw(saya) ngerjain(mengerjakan) PI di mana gw(saya) harus mengolah data yang cukup banyak dari Laporan Neraca dan Laporan Laba Rugi selama 3 periode. Awalnya terdapat hambatan kecil di mana nominal laporan keuangan dari objek penelitian gw(saya) itu sampai triliyun. Oh My God…!!(ya allah,) pakai kalkulator 12 digit aja gak(saja tidak) cukup, akhirnya gw(saya) putusin buat(memutuskan untuk) pakai (memakai) kalkulator di komputer. Syukurlah bisa dan akhirnya dalam waktu 2 minggu penyelesaian bab 4 udah(sudah) beres(selesai).
Semangat saling memotivasi, membantu dan mendukung sesama teman sekelas 3EB13, membuat gw(saya) semakin semangat buat ngrjain(untuk mengerjakan) PI. Bab 4 udah rampung (sudah selesai) akhirnya lanjut ke bab 5 di mana membuat kesimpulan dan saran, untuk kesimpulan bisa kita ambil dari jawaban atas rumusan masalah yang udah kita buat di bab 1. Juga buat kesimpulan itu gak(tidak) boleh terlalu banyak dan bertele-tele (membuang waktu), cukup yang ringkas aja(saja) kata DP.

Setelah menuju akhir-akhir waktu konsul buat mahasiswa, di mana itu terdapat 8x pertemuan buat konsul sama DP. setelah semua rampung akhirnya gw(saya) tinggal buat kata pengantar, cover, daftar isi, lampiran, lembar pengesahan, lembar originalitas dll. Di minggu kemarin syukurlah akhirnya gw(saya) dapet(dapat) SK dari DP buat persetujuan sidang. Walaupun masih ada beberapa hal yang harus direvisi setelah dikroscek(diperiksa) lagi dari bab 1 sama DP, tapi gw(tetapi saya) seneng(senang) akhirnya perjuangan gw udah(saya sudah) mulai keliatan hasilnya. Temen-temen sekelas juga banyak yang dapet juga kemarin(dapat kemaren). Walapun masih ada beberapa yang belum dapet(tidak dapat) SK tapi kalian(tetapi mereka) harus tetap semangat yang teman!!!!(harus tetap semangat.) 

Akhirnya bisa sedikit lega(tenang) di mana gw(saya) tinggal mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk mengikuti sidang, mudah-mudahan semua lancar tanpa hambatan berarti dan mendapat hasil yang memuaskan untuk Penulisan Ilmiah ini.


Sabtu, 05 Oktober 2013

Ragam Bahasa

Ragam bahasa adalah variasi bahasa atau tuntutan pemakaian yang berbeda-beda menurut tempat, topik, penutur, sarana/ medium pembicaraan, dan sebagainya. Adanya ragam bahasa Indonesia disebabkan oleh perkembangan masyarakat (konteks sosial).

Ragam Bahasa Indonesia berdasarkan media
Di dalam bahasa Indonesia disamping dikenal kosa kata baku Indonesia dikenal pula kosa kata bahasa Indonesia ragam baku, yang sering disebut sebagai kosa kata baku bahasa Indonesia baku. Kosa kata baku bahasa Indonesia, memiliki ciri kaidah bahasa Indonesia ragam baku, yang dijadikan tolak ukur yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan penutur bahasa Indonesia, bukan otoritas lembaga atau instansi didalam menggunakan bahasa Indonesia ragam baku. Jadi, kosa kata itu digunakan di dalam ragam baku bukan ragam santai atau ragam akrab. Walaupun demikian, tidak menutup kemungkinan digunakannya kosa kata ragam baku di dalam pemakian ragam-ragam yang lain asal tidak mengganggu makna dan rasa bahasa ragam yang bersangkutan.

Suatu ragam bahasa, terutama ragam bahasa jurnalistik dan hukum, tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan bentuk kosakata ragam bahasa baku agar dapat menjadi panutan bagi masyarakat pengguna bahasa Indonesia. Perlu diperhatikan ialah kaidah tentang norma yang berlaku yang berkaitan dengan latar belakang pembicaraan (situasi pembicaraan), pelaku bicara. Ragam bahasa Indonesia berdasarkan media dibagi menjadi dua yaitu :
          
a)      Ragam bahasa lisan
Adalah ragam bahasa yang diungkapkan melalui media lisan, terkait oleh ruang dan waktu sehingga situasi pengungkapan dapat membantu pemahaman. Ragam bahasa baku lisan didukung oleh situasi pemakaian. Namun, hal itu tidak mengurangi ciri kebakuannya. Walaupun demikian, ketepatan dalam pilihan kata dan bentuk kata serta kelengkapan unsur-unsur  di dalam kelengkapan unsur-unsur di dalam struktur kalimat tidak menjadi ciri kebakuan dalam ragam baku lisan karena situasi dan kondisi pembicaraan menjadi pendukung di dalam memahami makna gagasan yang disampaikan secara lisan. Pembicaraan lisan dalam situasi formal berbeda tuntutan kaidah kebakuannya dengan pembicaraan lisan dalam situasi tidak formal atau santai. Jika ragam bahasa lisan dituliskan, ragam bahasa itu tidak dapat disebut sebagai ragam tulis, tetapi tetap disebut sebagai ragam lisan, hanya saja diwujudkan dalam bentuk tulis. Oleh karena itu, bahasa yang dilihat dari ciri-cirinya tidak menunjukkan ciri-ciri ragam tulis, walaupun direalisasikan dalam bentuk tulis, ragam bahasa serupa itu tidak dapat dikatakan sebagai ragam tulis.
Ciri-ciri ragam lisan :
- Memerlukan orang kedua/teman bicara;
- Tergantung situasi, kondisi, ruang & waktu;
      - Hanya perlu intonasi serta bahasa tubuh.
Berlangsung cepat;
Sering dapat berlangsung tanpa alat bantu;
      - Kesalahan dapat langsung dikoreksi;
- Dapat dibantu dengan gerak tubuh dan mimik wajah serta intonasi.

Yang termasuk dalam ragam lisan diantaranya pidato, ceramah, sambutan, berbincang-bincang,
dan masih banyak lagi. Semua itu sering digunakan kebanyakan orang dalam kehidupan sehari
hari, terutama ngobrol atau berbincang-bincang, karena tidak diikat oleh aturan-aturan atau cara
penyampaian seperti halnya pidato ataupun ceramah.


b)      Ragam bahasa tulis
Ragam bahasa tulis adalah bahasa yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarnya. Dalam ragam tulis, kita berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) di samping aspek tata bahasa dan kosa kata. Dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketepatan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tanda baca dalam mengungkapkan ide.

Contoh dari ragam bahasa tulis adalah surat, karya ilmiah, surat kabar, dll. Dalam ragam bahsa tulis perlu memperhatikan ejaan bahasa indonesia yang baik dan benar. Terutama dalam pembuatan karya-karya ilmiah.

Ciri Ragam Bahasa Tulis :

- Tidak memerlukan kehadiran orang lain.
- Tidak terikat ruang dan waktu
- Kosa kata yang digunakan dipilih secara cermat
- Pembentukan kata dilakukan secara sempurna,
- Kalimat dibentuk dengan struktur yang lengkap, dan
- Paragraf dikembangkan secara lengkap dan padu.
- Berlangsung lambat
- Memerlukan alat bantu

Variasi Bahasa dari Segi Penutur
a.Variasi bahasa idiolek adalah variasi bahasa yang bersifat perorangan.
b.Variasi bahasa dialek adalah variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada suatu tempat, wilayah, atau area tertentu.
c. Variasi bahasa kronolek atau dialek temporal adalah variasi bahasa yang digunakan oleh sekelompok sosial pada masa tertentu.
d.Variasi bahasa sosiolek adalah variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi para penuturnya, seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat kebangsawanan, keadaan sosial ekonomi, dan lain sebagainya.
  • Variasi bahasa berdasarkan usia yaitu variasi bahasa yang digunakan berdasarkan tingkat usia.
  • Variasi bahasa berdasarkan pendidikan, yaitu variasi bahasa yang terkait dengan tingkat pendidikan si pengguna bahasa.
  • Variasi bahasa berdasarkan jenis kelamin adalah variasi bahasa yang terkait dengan jenis kelamin dalam hal ini pria atau wanita.
  • Variasi bahasa berdasarkan profesi, pekerjaan, atau tugas para penutur.
  • Variasi bahasa berdasarkan tingkat kebangsawanan adalah variasi yang terkait dengan tingkat dan kedudukan penutur (kebangsawanan atau raja-raja) dalam masyarakatnya.
  • Variasi bahasa berdasarkan tingkat ekonomi para penutur.
1)   Akrolek adalah variasi sosial yang dianggap lebih tinggi atau lebih bergengsi dari variasi sosial lainya;
2)  Basilek adalah variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi atau bahkan dipandang rendah;
3)  Vulgar adalah variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pada pemakai bahasa yang kurang terpelajar atau dari kalangan yang tidak berpendidikan;
4)  Slang adalah variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia;
5)  Kolokial adalah variasi bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari yang cenderung menyingkat kata karena bukan merupakan bahasa tulis;
6)   Jargon adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok sosial tertentu;
7)   Argot adalah variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh profesi  dan bersifat rahasia;
8)   Ken adalah variasi sosial yang bernada memelas, dibuat merengek-rengek penuh dengan kepura-puraan.

2.       Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian
  • Variasi bahasa berkenaan dengan pemakaian atau fungsinya disebut fungsiolek atau register adalah variasi bahasa yang menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau bidang apa.
  • Variasi bahasa dari segi pemakaian ini yang paling tanpak cirinya adalah dalam hal kosakata.
3.       Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
  • Gaya atau ragam beku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan pada situasi-situasi hikmat.
  • Gaya atau ragam resmi adalah variasi bahasa yang biasa digunakan pada pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat, dan lain sebagainya.
  • Gaya atau ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang lazim dalam pembicaraan yang berorientasi pada hasil atau produksi.
4.       Variasi Bahasa dari Segi Sarana
Ragam bahasa ini lazim dibagi atas ragam lisan dan ragam tulisan. Ada dua hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan perbedaan ragam lisan dan tulisan, antara lain:
  • Berhubungan dengan suasana peristiwanya. Kalimat dalam ragam tulisan harus lebih cermat, fungsi-fungsi gramatikal harus nyata.
  • Berkaitan dengan beberapa upaya yang digunakan dalam ujaran, misalnya tinggi rendah dan panjang pendeknya suara serta irama kalimat yang sulit dilambangkan denngan ejaan dan tata tulis yang kita miliki.
Ragam bahasa berdasarkan situasi
Berdasarkan situasi pemakaianya, bahasa dapat dibagi menjadi : ragam formal, ragam semiformal, ragam nonformal

Ragam formal digunakan dalam situasi resmi. Ragam formal atau ragam baku yaitu ragam yang mengikuti kaidah atau aturan kebahasaan. Bahasa baku tidak dapat digunakan untuk segala keperluan, tetapi hanya untuk : komunikasi resmi, wacana teknis, pembicaraan di depan khalayak ramai dan pembicaraan dengan orang yang dihormati

Ragam semiformal memiliki keunikan tersendiri, karena berciri mengikuti kaidah dan aturan yang tetap. Tetapi hanya tidak secara konsisten dilakukan pada saat tujuan tertentu. Dalam hal ini sebagai contoh yaitu bahasa jurnalistik, dimana biasanya pembaca berita , membacakan beritanya tidak selalu dengan kata-kata yang baku , melainkan kadang ditengah-tengah kata-kata baku yang mereka ucapkan terselip kata-kata yang biasa kita gunakan untuk berbicara kepada seseorang dalam hal ini berbicara santai kepada lawan bicara kita dalam membahas topik yang tidak resmi.

Ragam nonformal tidak mutlak untuk menggunakan pemakaian kata baku. Atau dalam hal ini ragam nonformal berciri tidak sesuai kaidah atau aturan yang tetap. Contohnya seperti pada saat kita mengobrol santai dengan teman.

Kesimpulan
Ragam Bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara. Dalam konteks ini ragam bahasa meliputi bahasa lisan dan bahasa baku tulis. Pada ragam bahasa baku tulis diharapkan para penulis mampu menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta menggunakan Ejaan bahasa yang telah Disempurnakan (EYD), sedangkan untuk ragam bahasa lisan diharapkan para warga negara Indonesia mampu mengucapkan dan memakai bahasa Indonesia dengan baik serta bertutur kata sopan sebagaimana pedoman yang ada. 

Saran
Sebagai warga negara Indonesia, sudah seharusnya kita semua mempelajari ragam bahasa yang kita miliki, kemudian mempelajari dan mengambil hal-hal yang baik, yang dapat kita amalkan dan kita pakai untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber :